Tidak dipungkiri kalau Wordpress membuat saya dan jutaan pengguna lainnya merasa terbantu dalam melakukan aktifitas blogging. Cukup dengan install plugin atau page builder maka bim salabim, apapun yang saya butuhkan akan muncul dalam dalam sekejap, yang pasti semua itu bisa dilakukan tanpa harus bersusah payah menulis kode.

Terus kenapa saya pindah dari WP?

Setelah sekian lama menjustifikasi diri menyimpan blog ini pada hosting berbayar akhirnya saya sadar juga telah melakukan hal yang sia-sia karena pada prakteknya

  • merasa mubazir theme premium yang harganya hampir sejutaan cuma dipakai untuk blog sederhana
  • jarang update atau posting, karena riweuh teu puguh alias so little time so much to do 😀
  • theme + plugin-nya berat, kadang membuat blog lain yang sama berada dalam satu paket hosting jadi susah diakses
  • beban biaya hosting, yang kalau diakumulasikan lumayan bisa seratus kali makan siang.
  • harus sering mengontrol untuk sekedar update plugin dan backup
  • ternyata ada alternatif lain dimana blog saya bisa tetap online tanpa mengeluarkan biaya.

Memang ada yang gratis?

Ada dong… let’s name it, Blogger.com, Worpress.com, Medium dan seabreg layanan publishing blog gratis lainnya

Cuma, yang jadi masalah adalah saya ingin yang fleksibel, dan itu tidak bisa saya dapatkan pada Blogger.com juga Worpress.com, apalagi Medium.

Setelah cari referensi kesana-kemari akhirnya menemukan platform blog yang lebih masuk akal buat saya, yaitu SSG. FYI SSG adalah akronim dari Static Site Generator, yakni aplikasi berfungsi untuk membuat halaman web statis.

Kalau platform blog konvensional (Wordpress, Blogger etc) bekerja mengolah data di server maka berbeda dengan SSG. Aplikasi SSG dipasang dan bekerja pada desktop/laptop pengguna.

Sebagai ilustrasinya silahkan lihat gambar berikut ini deh…

ilustrasi server side web app dan SSG

Dari gambaran diatas bisa dilihat bagaimana cara kerja SSG dibandingkan dengan CMS yang terinstal dan bekerja di server.

Keduanya punya kekurangan dan kelebihan, tapi dalam kasus saya SSG adalah yang paling pas, dan sebagai referensi berikut ini adalah kelebihannya

  1. Gratis, dari mulai aplikasinya, theme sampai hosting.
  2. Keamanannya jauh lebih terjamin dari CMS konvensional seperti Wordpress, Joomla dll.
  3. Kecepatan loading blog jauh meningkat.
  4. Mudah dicustom, terutama bagi pengguna yang terbiasa dengan HTML & CSS.
  5. Blog + konten tersimpab di desktop/laptop sendiri 😄

Ada kelebihan tentu ada kekurangan

  1. Ribet pada awal instalasi.
  2. Tidak ada interface atau dashboard,
  3. Tidak ada WYSIWYG editor, karena semua aktifitas menggunakan teks editor dan command line.
  4. Tidak cocok untuk web/blog besar dengan ribuan konten
Hugo

Ada beberapa SSG yang populer dan digunakan oleh blogger, diantaranya adalah Jekyll (Ruby), Pelican (Python), Hexo (JavaScript) dan saya sendiri memilih Hugo (Golang) sebagai weapon of choice. Salah satu alasannya adalah Hugo sintaksnya mudah dipelajari dalam waktu singkat, dokumentasi lengkap, dan ada komunitasnya.

Setelah 2 minggu lebih mempelajari dan menyiapkan theme akhirnya saya memindahkan Hobbious.com dari wordpress ke Hugo. Saat ini workflow saya adalah Hugo di laptop lalu simpan di repo Gitlab sebelum deploy ke server.

Apa Rasanya Menggunakan SSG

Sensasinya jelas beda, bayangkan saja punya blog yang disimpan di laptop sendiri. Buat saya hal ini sangat merangsang untuk lebih sering menulis ketika offline. Selain itu konten blog (teks dan gambar) bisa didokumentasikan secara rapih di komputer tanpa harus backup data seperti pada Wordpress aau Blogger yang hasil backup-nya sendiri tidak bisa secara langsung dibaca oleh kita.

Kalau yang kurang enaknya paling merasa keder di awal karena harus membiasakan menulis posting dengan teks editor.


Sum

Overall SSG direkomendasikan jika

  1. pengguna senang mempelajari hal baru
  2. pengguna butuh platform web atau blog yang ekonomis, cukup bermodakan domain.
  3. blog/web yang dibangun berskala kecil, seperti blog pribadi, landing page, halaman CV/portfolio.

Salam