Seperti yang kita ketahui bahwa untuk daerah Bandung moda trasportasi daring atau yang berbasis online (taksi & ojek) disarankan untuk tidak beroperasi dahulu, dimana hal tersebut terjadi setelah adanya demo yang dilakukan para pengusaha dan sopir angkot.

Sebenarnya mana yang lebih baik diantara kedua moda transportasi tersebut?

Mari kita mulai dari angkot…

  • Tarif. mau dibilang murah juga ternyata relatif, tidak ada parameter yang pasti. Sopir dan penumpang kadang berbeda persepsi antara jauh-dekat dan besarnya tarif yang ideal, dan biasanya nih kalau BBM naik maka kenaikan tarifnya bisa melebihi dari yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah.
  • Sering berhenti menunggu penumpang. jika tidak ugal-ugalan maka angkot punya kebiasaan nge-tem, yaitu berlama-lama hangout di beberapa spot untuk menunggu penumpang, minimal 5 menit, maksimalnya ya tergantung mood sang sopir.
  • Bad Attitude. banyak sopir yang attitude-nya patut diacungi jempol, tapi tidak sedikit juga yang kurang lebih brengsek, dari mulai bicara kasar, mabuk sampai ugal-ugalan.
  • Kurang aman dan kurang nyaman. jarang dijumpai angkot yang bersih dan layak kecuali kalau angkotnya masih baru. Terkadang kalau lagi apes bisa satu angkot bareng tukang todong atau copet.

Ya begitulah kira-kira sebagian hal yang bisa dan mungkin akan sering dijumpai kalau menggunakan angkot.

Bagaimana dengan transportasi online?

  • Tarif Lebih Terukur. dari segi tarif taksii dan ojek online lebih terukur, penumpang bisa tahu berapa ongkos yang harus dikeluarkan. Dalam hal ini malah lebih murah jika jarak yang ditempuh lumayan jauh.
  • Aman & Nyaman dibandingkan angkot tentu lebih nyaman, tidak usah naik turun, untuk taksi ada AC lagi.
  • Praktis & Efisien Waktu pengguna bisa mengukur perkiraan waktu tempuh dan yang pasti lebih efisien dan tepat waktu karena tidak ada istilah ngetem.

Tapi di sisi lain kasihan dan tidak adil juga rasanya kalau sampai mereka (sopir angkot) jadi kehilangan mata pencaharian, bagaimana nasib keluarganya? Dari sebuah artikel yang ditulis di Kompas menyebutkan bahwa sudah 75 ribu angkot dikandangkan sebagai imbas dari maraknya transportasi online. Dalam hal ini wajar saja kalau para pemilik angkot dan sopir mencak-mencak.

Jadi siapa yang untung?

Kalau mau itung-itungan maka tidak ada pihak yang untung, semuanya mengalami kerugian, saya sendiri merasa agak dirugikan dengan tidak beroperasinya transportasi online, pun dengan para pelaku usaha transportasi (online & konvensional), belum lagi efeknya yang berimbas pada sektor lain, contohnya usaha yang memanfaatkan jasa pengiriman berbasis daring, diantaranya adalah bisnis kuliner.

Dari dulu saya kurang faham kenapa kita selalu ribut kepada hal yang jauh dari kemampuan, seperti ribut masalah pesawat, kereta api cepat atau monorail. Padahal moda transportasi yang paling sederhana saja belum bisa/mampu dimanage dengan baik.

Bukan maksud melarang inovasi lain dalam bidang transportasi, tapi kalau hal yang lebih sederhana saja belum mampu dikelola dengan baik maka apa jadinya dengan yang levelnya lebih kompleks.

Semoga saja saat ini pemerintah jadi lebih aware untuk segera membuat formulasi dan peraturan yang dapat memayungi semua pihak, baik itu pengusaha/pelaku bisnis transportasi dan tentu penggunanya juga.

Nah agar adil, sebelum ada win-win solution yang menguntungkan semua pihak maka saya memilih untuk mengendarai kuda…