Talkative

Migrasi Blog dari Wordpress ke Hugo

Yudy Ananda

Siapa yang tidak suka dengan Wordpress—baca WP? Saya rasa hampir semua nara blog sudah pernah merasakan enaknya menulis di dashboard CMS sejuta umat yang satu ini. Selain banyaknya pilihan plugin dan theme informasi dan panduan tentang WP pun bisa dicari dengan mudah, jadi tidak heran juga kalau WP mendominasi market share-nya CMS.

Dengan alasan yang sama saya pun beralih menggunakan WP, apalagi pada saat itu ada beberapa pekerjaan sampingan yang memang berurusan dengan WP juga. Sayangnya setelah beberapa lama berjalan blog menjadi hal yang bukan lagi menjadi prioritas. Malas juga rasanya kalau harus keluar uang untuk blog jablay. Singkat cerita akhirnya diputuskanlah untuk migrasi.

Migrasi ke mana?

Targetnya sih tidak muluk-muluk, yaitu blog tetap bisa online tanpa harus keluar biaya. 😅 Minimal bisa buat menampilkan portfolio lah, pikir saya. Nah, opsi yang ada ya cuma blogspot dan wordpres.com. Ah, tapi tanggung juga rasanya kalau harus pake blogging service seperti itu. Selain fitur yang terbatas saya ingin 'rasa' self-hosted-nya tetap ada.

Setelah beberapa lama mencari referensi akhirnya saya menemukan pilihan yang paling masuk akal, yaitu Static Site Generatorbaca SSG—aplikasi yang dikhususkan untuk mengembangkan web statis.

Statis tapi Dinamis

Cara kerja SSG ini sebenarnya sangat sederhana, yaitu menyediakan templating untuk setiap konten sekaligus melakukan generasi konten tersebut menjadi halaman HTML statis atau istilah kerennya disebut dengan pra-render.

Mendengar web statis yang pertama kali terbayang pasti antarmuka web jaman baheula yang terlihat kaku dan kurang estetis. Tapi jangan salah sangka! SSG tidak sekuno itu. Perkembangan teknologi frontend membuat web statis bisa tampil modern dan dinamis—memang belum sepenuhnya tapi setidaknya menuju ke arah itu.

Pilihannya sendiri ada banyak. Mulai dari yang menggunakan PHP, Python, Javascript hingga Rubby. Dalam kasus ini kebetulan saya memilih framework yang bernama Hugo.

Hugo

Sebelum memilih Hugo sebenarnya sempat tertarik juga untuk mencoba Gatsby, tapi niat tersebut diurungkan karena keterbatasan pengetahuan saya tentang Javascript pada. Selain itu, informasi dan tutorial tentang Hugo pun rasanya lebih bisa dimengerti oleh pemula.

Tantangannya adalah mempelajari sintaks, logika dan tentu saja templating-nya. Untuk hal ini level kesulitan Hugo bisa dikatakan sedang—pengetahuan tentang CSS dan HTML bisa sangat membantu.

Selebihnya mungkin hanya soal adaptasi. Konten pra-render membuat saya harus sedikit beradaptasi dan merubah mindset tentang bagaimana website akan berkerja. Fitur-fitur dinamis web seperti komentar, pencarian atau yang lainnya akan bekerja dengan cara yang berbeda dari WP atau web dinamis lainnya.

Deploy

Bagaimana sol deploy dan hosting? Nah, buat urusan ini website yang dibuat dengan SSG bisa dibilang mudah. Karena yang akan di-hosting adalah dokumen HTML statis maka kita tidak memerlukan server dengan requirement khusus.

Kita bisa menyimpan hasil render SSG di shared hosting, VPS bahkan CDN sekali pun. Saya sendiri memilih menyimpan blog ini di Firebase yang pada dasarnya menggunakan jaringan CDN milik Fastly.

Untuk otomatisasi dan memudahkan pengiriman hasil render ke tempat hosting, konten beserta aplikasi SSG biasanya disimpan di repositori git yang biasanya terkoneksi dengan layanan integrasi berkelanjutan.

Hebatnya lagi, semua itu bisa dilakukan dan berjalan tanpa harus mengeluarkan biaya...

Sum

Hugo atau SSG bisa jadi alternatif yang paling masuk akal untuk project web sederhana seperti blog atau landing page. Kita bisa membangun website modern yang cepat, aman sekaligus mengurangi kerumitan, biaya dan waktu pengembangan.

Punya rencana pindah ke SSG atau Hugo?

Ikon penanda buku
Hugo